PENGALAMAN
PJJ DI ERA PANDEMI COVID-19
Assalammualikum
warohmatullahi wabarokatu, perkenalkan nama saya Diana Meliantika,S.Pd seorang
guru PAUD di lembaga pendidikan non formal PAUD PERTIWI desa Dharma Sakti,
Kecamatan Tuah Negeri Kabupaten Musi Rawas. Saat ini dunia digemparkan oleh
wabah virus corona atau covid-19 yang berasal dari Cina. Virus ini telah
menyebar luas keseluruh penjuru dunia, tidak terkecuali Indonesia. Jumlah
penderitanya pun terus meningkat dari bulan kebulan. Tercatat pada laman satgas
covid-19 pada tanggal 23 November 2020 ada 502.110 penderita positif, 422.386
orang sembuh, dan 16.002 orang sembuh. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus
meningkat jika masyarakat tidak mematuhi protokol kesehatan yang telah
ditetapkan pemerintah. Adapun protokol tersebut yaitu menggunakan masker, cuci
tangan menggunakan sabun, menjaga jarak aman, dan tidak berkerumun.
Wabah
ini tidak hanya berimbas pada bidang kesehatan saja akan tetapi berimbas
keseluruh sektor, salah satunya yaitu sektor pendidikan. Guna mencegah
penyebaran virus ini, pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan
surat edaran Sesjen nomor 15 tahun 2020 tentang pedoman pelaksanaan Belajar
Dari Rumah (BDR) selama covid-19. Tujuanya yaitu untuk memastikan peserta didik
mendapatkan layanan pendidikan, serta melindungi para pendidik dan tenaga
pendidik dari wabah covid-19. Metode dan media yang digunakan dalam proses BDR
yaitu Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dibagi kedalam dua macam pendekatan
yaitu PJJ dalam jaringan (daring) dan PJJ luar jaringan (luring).
Dalam
proses pelaksanaannya banyak orang tua yang merasa asing dengan metode daring
ini. Biasanya orang tua menyerahkan pendidikan anaknya di lembaga sekolah akan
tetapi, pada masa pandemi ini orang tualah yang menjadi guru di rumah. Banyak
orang tua yang mengeluh dikarenakan mereka merasa kesulitan untuk mengajari
anaknya. Menurut mereka jika ibu atau bapaknya yang mengajar anaknya tidak mau
belajar, anaknya hanya ingin bermain. Hal tersebut menurut kami sebagai
pendidik merupakan hal yang sangat wajar karena anak yang mereka ajar berusia
4-6 tahun dimana kegiatan belajar bagi mereka dilakukan bermain sambil belajar.
Orang tua belum tahu bagaimana caranya menyisipkan kegiatan pembelajaran dalam
proses bermain tersebut. Karena menurut orang tua belajar itu menulis, membaca
dan berhitung.
Terlebih
lagi di wilayah kami desa Dharma Sakti Kecamatan Tuah Negeri mayoritas orang
tua wali murid adalah seorang petani karet, mereka mengalami dampak yang sangat
besar akibat pandemi ini yaitu harga getah yang turun drastis sampai pernah
mencapai harga Rp 3.500/kg jadi mereka tidak berkeinginan membeli HP android
dengan alasan untuk makan saja susah apalagi membeli HP. Dilain sisi para wali
murid yang memiliki HP andorid merasa kesusahan dengan jaringan seluler karena,
jika mati lampu di desa kami tidak ada sinyal. Oleh sebab itu proses belajar
secara daring ini dirasakan tidak mampu merangkul semua peserta didik. Sehingga
pihak lembaga sekolah melaksanakan sistem luring dengan metode kunjungan
kerumah (home visit) 3x dalam 1
minggu. Saat kegiatan luring kami mendatangi rumah anak secara bergantian
dengan mematuhi protokol kesehatan. Mereka berkumpul 3-4 orang dirumah temannya
untuk melakukan kegiatan pembelajaran sesuai jadwnya masing-masing.
Terlihat
sekali bahwa mereka rindu akan kegiatan belajar mengajar disekolah terbukti di
hari pertama kami luring mereka sangat antusias. Ada beberapa peserta didik
ingin memeluk dan bersalam tetapi tidak bisa. Banyak sekali pertanyaan yang mereka
ajukan seperti “bunda kapan kita sekolah lagi?”, “bunda kok sekolahnya tidak
setiap hari?”. “bunda kita kok sekolahny dirumah?”. Ada moment lucu saat kami
daring ada peserta didik yang bekalnya dari rumah berupa singkong rebus. Mungkin
bagi peseta didik tersebut hal yang biasa tapi bagi kami seorang pendidik hal
tersebut sangat menyentuh hati.
Pembelajaran
luring ini bukannya tidak memiliki tantangan bagi kami pendidik yang juga
seorang ibu rumah tangga. Kami memiliki anak kecil dirumah. Kami harus bangun
pagi-pagi buta mengurusi keperluan anak-anak dan suami. Kami juga harus memenuhi
tanggung jawab kami mendatangi rumah peserta didik untuk mengajar. Terkadang
terlintas dibenak kami bagaiman jika terjadi sesuatu dijalan, pecah ban
misalnya, mogok, atau habis bensin. Hal lainnya yang kami takutkan yaitu musi
hujan. Ketika musim hujan kami takut anak kami terlalu lama menunggu dan kami
juga takut akan fisik kami yang lelah takut jikalau kami sakit, siapa yang akan
mengajar anak-anak kami, siapa yang akan mengurus anak kami sendiri dirumah.
Tetapi kami sesama pendidik saling menguatkan dan memotivasi diri kami sendiri
bahwa yang kami lakukan adalah ibadah, panggilan hati, kami ikhlas atas apa
yang kami berikan kepada anak didik kami, dan kami berharap wabah ini cepat
teratasi. Wasalammualikum warohmatullahi wabarokatu.
Kerennnn
BalasHapus